Like facebook


music online

TOP ARTIKEL

About Me

Tampilkan postingan dengan label FARMASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FARMASI. Tampilkan semua postingan

Harga Eceren Tertinggi Obat generik SK MENKES 2012




Untuk mendownload klik disini

Read more...
separador

Jangan Salah Persepsi Dengan Obat Generik


Dalam suatu perbincangan dengan seorang tetangga saat ia berobat di puskesmas, tetangga penulis menceritakan pengalamannya diberikan resep obat generik. Karena mungkin kurangnya edukasi terhadap tetangga penulis, ia agak sedikit menggerutu. “Obat generik yang dikasih ama dokter,ya pasti lama sembuh sakitku. Ujung-ujungnya ya mesti balik kesana”. Kata tetangga penulis dengan sedikit kecewa.

Obat generik bagi sebagian masyarakat seringkali dianaktirikan dan dianggap sebelah mata oleh pasien. Banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang obat dan kualitasnya. Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Masyarakat lebih cenderung mendewakan obat paten dibandingkan obat generik. Obat paten menjadi banyak diinginkan,dan masyarakat yang sedang menderita sakit menjadi cepat sembuh.

Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik ”X” diberi merek ”inemicillin”, sedangkan pabrik ”Y” memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut, bahannya sama yakni amoxicillin.

Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa hak paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik hak paten. Setelah obat paten berhenti masa patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik= nama zat berkhasiatnya). Obat generik inipun dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerk (branded generic).
Obat generik berlogo yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat, sedangkan obat generik bermerk yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya

Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Ibarat sebuah baju, fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. Hanya saja, modelnya bajunya beraneka ragam. Begitu pula dengan obat. Generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal. Dari segi kandungan kimiawinya, obat paten sama dengan obat generik. Perbedaannya ada pada yang satu masih paten, yang lain sudah tidak perlu menyandang panten.

Solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri untuk lebih mengenalkan obat generic ke masyarakat adalah yang pertama dengan menunjuk duta obat generik yang dapat turun ke masyarakat (sebaiknya menggunakan icon artis sehingga masyarakat lebih antusias). Cara yang kedua adalah menggencarkan iklan obat generik di media elektronik khususnya televisi sebab jarang sekali saat ini melihat iklan mengenai obat generik di televisi. Cara yang ketiga adalah dengan bekerja sama dengan instansi-instansi kesehatan misalnya apotek, rumah sakit puskesmas untuk mampu mengajak masyarakat yang belum mengenal lebih dalam obat generik menggunakannya serta instansi-instani kesehatan tersebut mampu menerangkan kepada masyarakat akan manfaat obat generik yang selama ini di cap obat kelas dua. Nah, mulai sekarang jika sakit dan berobat jangan lupa menggunakan obat generik yah. Salam Sehat.

sumber http://kesehatan.kompasiana.com
Read more...
separador

Tipe Dokter Yang Perlu Diwaspadai




1. Dokter yang Suka Bikin Resep Panjang-Panjang
17 menit merupakan waktu rata-rata yang diperlukan dokter untuk mendengarkan keluhan Anda, mendiagnosis dan menuliskan resep obat untuk pasiennya. Jadi tidak mengherankan jika ada sejumlah dokter 'nakal' yang memanfaatkan resep obat untuk mendapatkan keuntungan.

Faktanya, dalam kurun waktu 1999-2009, jumlah resep yang ditulis dokter meningkat sebesar 39 persen padahal mungkin obat-obatan yang diresepkan tidak begitu diperlukan oleh pasien. Menurut data dari American Journal of Public Health, jumlah resep pil tidur telah meningkat 21 kali lebih cepat daripada jumlah keluhan kurang tidur yang dialami pasien.

Daripada begitu, lebih baik carilah sendiri beberapa metode untuk membantu Anda tidur lebih baik. Sayangnya, banyak pasien yang memilih untuk meminta resep pada dokter daripada mencari alternatif lewat internet, misalnya.

Cara mengatasinya: Sebelum mengonsumsi obat apapun, sebaiknya Anda tanyakan 3 hal ini kepada dokter Anda: Adakah alternatif selain obat yang bisa saya pakai dulu? Mengapa Anda memilih obat ini dibanding lainnya? Apa pro dan kontra menggunakan obat ini?

Jika dokter Anda mengabaikan ketiga pertanyaan di atas, itu saatnya Anda mencari dokter baru. Cek pula kemungkinan dokter pribadi Anda telah menerima suap dari sebuah perusahaan farmasi untuk memasok obat-obatan tertentu.

2. Dokter yang Kurang Tidur
Sebelum terbang, seorang pilot saja diharuskan untuk tidur sedikitnya 10 jam namun tidak ada pengaturan semacam ini bagi dokter yang juga bertanggung jawab terhadap beberapa nyawa di tangannya, bahkan seringkali mendapatkan giliran jaga selama 24 jam.

Padahal dokter yang kurang tidur memiliki dampak yang menakutkan. Misalnya seorang dokter bedah yang tidurnya kurang dari 6 jam di malam hari sebelum melakukan sebuah prosedur operasi akan menghadapi komplikasi pada operasinya dua kali lipat lebih banyak daripada rekan-rekannya yang beristirahat dengan cukup. Hal ini diungkapkan dalam Journal of the American Medical Association.

Dokter umum juga berisiko: dokumen yang harus ditangani oleh dokter dengan jumlah pasien yang besar akan membuatnya terus terjaga atau terlambat tidur dan berpotensi mengaburkan penilaian atau diagnosisnya keesokan harinya, ujar Charles Christopher Landrigan, M.D., direktur Sleep and Patient Safety Program, Brigham and Women's Hospital di Boston.

Cara mengatasinya: "Pasien berhak menanyakan kepada dokter apakah ia mendapatkan tidur yang cukup, terutama sebelum melakukan operasi," kata Landrigan. Ketika Anda akan menjalani operasi, tanyakan tentang jadwal dokter Anda dan pilih tanggal operasi yang berjauhan dengan giliran jaga panjangnya dimulai.

Kalau tidak, Anda juga bisa meminta operasi dilaksanakan pada pagi hari sebelum sang dokter kelelahan menangani pasien seharian penuh. Begitu juga bila Anda mendadak masuk UGD dan dokter Anda sangat sibuk, mintalah dokter lainnya untuk melihat kondisi Anda.

3. Dokter yang Berat Sebelah atau Tidak Netral
Sama halnya dengan orang-orang pada umumnya, seorang dokter juga bisa menghakimi sesuatu. Masalahnya, prasangka seorang dokter bisa mempengaruhi kesehatan Anda. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Law, Medicine & Ethics menemukan bahwa wanita yang memiliki gejala-gejala yang sama dengan pria cenderung tidak mendapatkan perawatan yang tepat karena dokternya biasanya berasumsi bahwa pasiennya melebih-lebihkan keluhan sakitnya.

Cara mengatasinya: Semua dokter seharusnya melihat dulu kondisi pasien dan mengesampingkan prasangkanya, ujar Richard Klein, M.D., penulis buku Surviving Your Doctors: Why the Medical System Is Dangerous to Your Health and How to Get Through It Alive.

Jika dokter menawab pertanyaan Anda dengan pernyataan-pernyataan umum misal "Oh, normal bagi wanita untuk merasa terlalu emosional" maka carilah dokter baru, tambah Klein.

Namun jika Anda merasa kurang beruntung dengan dokter pria, cobalah memakai jasa dokter wanita. Dokter wanita cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasien hingga membangun hubungan kemitraan yang baik dengan pasien.

"Dokter wanita mungkin bisa mengenal pasien lebih baik sehingga dapat mengurangi sikapnya yang berat sebelah," kata Debra Roter, D.P.H. dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

4. Dokter Genit
Hubungan romantis antara dokter dan pasien merupakan hal yang sangat dilarang dalam dunia medis. Meski begitu, beberapa dokter akan menggunakan kekuatannya untuk melakukan hal-hal semacam itu (seperti halnya dilaporkan pada bulan Maret 2012, seorang dokter bedah dari Pennsylvania didenda 5.000 US dollar dan ijin praktiknya dicabut setelah tidur dengan salah seorang pasiennya).

Untuk memberikan perawatan yang terbaik, seorang dokter harus obyektif. Lagipula,"pasien harus merasa nyaman agar bisa jujur kepada dokternya, terutama tentang gejala-gejala yang menurutnya tak menarik padahal bisa saja itu berdampak signifikan,"ungkap Pamela F. Gallin, M.D., penulis buku How to Survive Your Doctor's Care. Jika Anda bermaksud menggoda dokter Anda, Anda takkan menanyakan hal-hal yang Anda anggap memalukan.

Cara mengatasinya: Tak peduli seberapa menariknya dokter itu di mata Anda, ingatlah bahwa dokter tak boleh naksir pasiennya. Bahkan jika dokter itu hanya memberi godaan-godaan ringan pada Anda, lebih baik Anda mencari dokter baru. Begitu pula dengan perawat.

5. Dokter yang Suka Berbohong
Menurut sebuah studi baru di Health Affairs, lebih dari 50 persen dokter mengakui telah memberikan prognosis yang buruk. Yang lebih buruk lagi 11 persen diantaranya mengaku pernah berbohong pada pasien.

Sedangkan lebih dari sepertiga dokter tidak merasa perlu untuk mengungkapkan semua kesalahan medis yang serius kepada pasien. Bahkan jika sebenarnya ia bermaksud baik, seorang dokter tak seharusnya menyembunyikan kebenaran kepada Anda yang sebenarnya perlu diketahui pasien, ujar Rosalyn Stewart, M.D., profesor kedokteran di Johns Hopkins University.

Cara mengatasinya: Anda tak bisa selalu mengatakan seorang dokter itu jujur atau tidak, namun Anda bisa mengecek diagnosisnya dengan mencari opini kedua, lanjut Stewart. Catat seluruh jenis pengobatan yang pernah Anda pakai, gejala-gejala sakit yang pernah Anda alami dan respon dokter terhadap kondisi Anda itu.

Jika sarannya berubah-ubah, bisa jadi dia sedang berusaha menutupi suatu kesalahan. Jika naluri Anda mengatakan ada sesuatu yang salah, katakan, "Saya tidak mengerti. Bisakah kita melakukan diagnosis lagi?"

6. Dokter yang Ketinggalan Jaman
Beberapa pasien berasumsi bahwa dokter yang usianya sudah lanjut memiliki wawasan yang lebih banyak. Namun hal itu tak sepenuhnya benar menurut Annals of Internal Medicine. Peneliti menemukan bahwa biasanya semakin lama seorang dokter telah berpraktik, semakin sedikit dia tahu tentang berbagai diagnosis dan tes pemindaian terbaru dalam dunia medis. Hal ini berujung pada semakin kecil kemungkinannya untuk mematuhi standar layanan kesehatan yang baik.

Studi ini juga menemukan bahwa pasien yang ditangani dokter bedah jantung yang lebih tua memiliki risiko kematian lebih tinggi, hal ini bisa terjadi karena dokter-dokter itu tidak menggunakan prosedur kesehatan terbaru yang bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.

Cara mengatasinya: Dokter yang baru lulus biasanya lebih update dengan teknologi medis terbaru. "Jika Anda memerlukan prosedur operasi yang melibatkan laproskop, robot atau teknik baru lainnya, dokter yang baru saja menyelesaikan pelatihannya bisa jadi andalan Anda," ungkap Janet Pregler, M.D., direktur Iris Cantor-UCLA Women's Health Center.

Meski begitu, secara umum dokter yang tengah berada di puncak karir memiliki keseimbangan yang bagus antara wawasan terbaru dan pengalaman kerja. Anda bisa dengan mudah menemukan dokter semacam ini di rumah sakit di kota Anda, tambah Gallin. Namun jangan begitu saja meninggalkan dokter Anda yang tua jika memang dia selalu up-to-date.

7. Dokter yang Melanggar Privasi Anda
Dokter yang sering menggunakan internet akan cenderung melakukan pelanggaran etika dokternya lewat media online tersebut. Hal ini diungkap Harvard Review of Psychiatry. Tak masalah jika dokter untuk memastikan diagnosis dan perawatan yang akan diberikan pada pasiennya dari internet, namun tidak etis jika para dokter melakukan hal-hal lebih dari itu.

Hal inipun bisa menjadi berisiko ketika dokter-dokter itu mencari info tentang pasien yang bersifat personal. Misalnya jika terapis Anda mengetahui siapa kekasih Anda atau pandangan politik Anda, maka itu bisa saja mempengaruhi keputusannya.

Cara mengatasinya: "Ingat, ada perlindungan dalam formalitas," kata Gallin. Anda ingin mendapatkan perawatan kesehatan berdasarkan fakta klinis Anda, bukannya foto-foto pesta Anda yang terpajang di Facebook. Batasi akses ke akun sosial media Anda dan lindungi album foto Anda agar tak mudah diakses.

Jangan lupa untuk terusmemantau perilaku dokter Anda yang mungkin saja membocorkan sesuatu yang tidakAnda katakan kepadanya. Tentu saja Anda juga dilarang untuk mengikuti kehidupanvirtualnya.

Sumber : detik - Rahma Lillahi Sativa
Read more...
separador

Antara Dokter dan Medical Representative Farmasi

judul aslinya "Jika Dokter dan Farmasi "Berselingkuh"". Hal ini pernah diungkapkan oleh tayangan SIGI di SCTV beberapa tahun yang lalu. Aroma kerja sama ini ada, tapi memang susah untuk dibuktikan.


Melalui medical representative (medrep), perusahaan farmasi membujuk habis para dokter. Iming-iming hadiah, insentif, hingga bonus wisata bersama keluarga menjadi senjatanya. Targetnya, sang dokter mau meresepkan obat produknya kepada para pasiennya.
Sore itu, sebuah surat elektronik eksekutif terima dari seorang sumber yang berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pengirim e-mail itu adalah 
seorang dokter yang memang ekskutif minta untuk menceritakan pengalamannya seputar praktik kongkalikong antara medical representative (medrep) sebuah perusahaan farmasi dengan sebagain dokter di rumah sakit tempat ia bekerja.
Dalam surat elektronik tersebut, sang dokter yang menolak disebutkan identitasnya ini menceritakan banyak hal. Namun, di awal suratnya itu, ia menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari dokter yang mudah “dirayu” oleh para medrep yang acap mendatanginya untuk mempromosikan obat yang mereka tawarkan. “Saya berusaha untuk profesional. Saya khawatir ini jadi tidak berkah,” tulis sumber tersebut.

Sumber ini menceritakan, beberapa waktu yang lalu ia menerima telepon dari seorang teman sejawat (sesama dokter) yang juga bekerja di rumah sakit tempat ia praktik. Temannya itu mengabarkan sedang berada di Jakarta, menginap di salah satu hotel berbintang lima, karena sedang mengikuti kongres yang disponsori oleh salah satu perusahaan farmasi besar yang berkantor pusat di Jakarta.


“Dengan bangga dia cerita ke saya, betapa baiknya si perusahaan tersebut. Mau membiayai seluruh perjalanannya dari kota yang jauh, menginapkannya bersama seluruh keluarganya di hotel berbintang. Bahkan, memberikan uang saku bagi istrinya untuk pergi berbelanja ke mal, selagi dia mengikuti kongres,” kata sumber ini. 


Belum lagi, lanjut e-mailnya, temannya itu mendapat bingkisan berbagai pernak pernik dan souvenir berhias logo perusahaan farmasi yang mesponsorinya itu untuk dibawa pulang ke kampungnya di Makassar. “Dia juga memuji-muji produk obat baru yang dipromosikan perusahaan tersebut, yang menempati satu sesi presentasi khusus dalam kongres itu,” tambahnya.  

Mendengar kisah bangga teman sejawatnya itu, bukan ikut merasakan senang. Ia malah mengaku prihatin dengan perubahan kawan seprofesinya itu. Sumber ini bahkan berseloroh, dulu kawannya itu dikenal berhati lugu, namun kini hatinya sudah berlogo perusahaan farmasi yang mensponsorinya itu. 


Sumber ini mengakui, bahwa obat-obatan produk perusahaan yang mensponsori temannya itu kini cukup banyak masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja. “Saya yakin, teman saya itu tidak ragu untuk menuliskan resep obat-obat itu untuk para pasiennya, meskipun saya sendiri tidak pernah melihat langsung,” ujarnya.


Sumber eksekutif ini juga mengakui, bahwa hampir seminggu sekali dirinya didatangi para pekerja farmasi yang juga dikenal dengan detailer ini. “Hampir semua dokter di rumah sakit saya sering didatangi medrep. Kadang penampilan mereka seperti selebritis saja,”tambahnya.


Kisah di atas, hanyalah satu dari sekian banyak praktik “perselingkuhan” antara dokter dengan perusahaan farmasi. Para medrep atau detailer dengan bendera perusahaannya melancarkan strategi pemasaran yang sangat agresif dan jitu. Siapa yang bisa memaksa pasien membeli obat tertentu, kalau bukan tangan dokter yang menuliskannya di kertas resep?


Tak banyak orang awam yang menyadari bahwa persaingan di industri obat sebetulnya cukup alot, mulai dari biaya riset yang mahal hingga aturan harga obat yang tidak boleh dibandrol terlalu mahal karena bisa merongrong kocek pasien. Akibatnya, produsen farmasi yang tidak sabar, menggaet dokter untuk ikut membantu memasarkan obat kepada pasien. Sebagai balasannya, dokter kerap diberikan sponsor untuk berlibur bersama keluarga yang berkedok pertemuan ilmiah, bahkan ada produsen obat yang terang-terangan memberikan komisi. Cara seperti ini, tampaknya sudah menjadi tahu-sama tahu antara dokter dan produsen obat.





Pambagiyo, seorang dokter yang berpraktik di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan menyebutkan, praktik yang dijalankan medrep seolah-olah sangat wajar. Misalnya, memperkenalkan produk dengan membawa makanan kecil ke apotek atau rumah sakit. Perkenalan diteruskan dengan bincang-bincang intens menyangkut hobi dan kesukaan dokter. Tidak ketinggalan, kadang medrep meminta apotek membeli obat yang direkomendasikan dengan iming-iming diskon, atau bahkan menjanjikan setengah penjualan obat itu untuk apotek.


Hebatnya lagi, medrep tidak membiarkan apotek bekerja sendiri dengan menunggu pembeli. Lewat medrep pula, perusahaan farmasi mendorong dokter atau rumah sakit di sekitar apotek untuk meresepkan obat yang sama. “Saya melihat, cara kerja medrep rapi sekali, semua dibantu dan diuntungkan, kecuali konsumen,” ujar seorang sumber eksekutif ini.

Dokter spesialis ini mengatakan, medrep sekarang makin blak-blakan dan bergerak cepat.“Mereka kadang tanpa ragu-ragu minta ‘bantuan’ para dokter untuk diresepkan produknya,” ujarnya. 

Namun, bak seorang agen rahasia, kadang ada juga seorang medrep yang datang dengan sejumlah data. Biasanya medrep sudah mengantongi data lengkap pasien yang berkunjung ke dokter, tempat praktik, dan informasi tentang keluarga si dokter. “Jadi, rupanya, diam-diam mereka mengamati saya,” imbuh dokter spesialis penyakit dalam ini.


Menurut pengakuan seorang medrep sebuah perusahaan farmasi lokal di Jakarta, bagi dokter yang dianggap unggulan, karena memiliki potensi pasien besar, digunakan pendekatan yang lebih seru, yakni mengundang jamuan makan malam. Namun, pada pertemuan informal itu, seorang medrep tak sendiri menemui. “Biasanya, saya ditemani seorang manajer atau bahkan manajer senior,” ujarnya.


Pertemuan itu dimaksudkan untuk langsung mempromosikan keunggulan obat dan hitung-hitungan reward yang bakal diberikan. Di pertemuan ini mereka bicara blak-blakan, tanpa malu-malu. Seperti bernegosiasi. “Ada juga negosiasinya berupa terima insentif bulanan dari pabrik obat yang bersangkutan,” sumber pria yang sudah lima tahun lebih bekerja di perusahaan farmasi ini.


Masih menurut dokter Pambagiyo, dari pengalamannya selama didekati orang farmasi, ia “memuji”, perusahaan farmasi kini makin “pintar” memilih iming-iming hadiah. Seperti yang ia pernah alaminya beberapa tahun lalu, tiba-tiba ia mendapat bonus laptop merek Toshiba dengan spesifiksi tinggi dengan ucapan “Selamat Tahun baru dan terima kasih telah membantu mereka. “Buat saya ini agak aneh, bagaimana mereka bisa tahu kalau anak saya sedang membutuhkan barang ini untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Padahal, saya tidak pernah menceritakan kalau saya mau membelinya buat anak saya,”ujarnya keheranan.


Seorang mantan medrep senior sebuah perusahaan farmasi asing juga mengaku tidak heran dengan taktik medrep tersebut. Menurutnya, amat mudah melacak kebutuhan keluarga dokter. Dalam hal ini, yang penting adalah hitung-hitungan bisnis. “Selama permintaan atau kebutuhan itu sesuai dengan bujet, hadiah dalam bentuk apa pun tidak masalah,” katanya.


Bak Buah Simalakama

Fenomena praktik “perselingkuhan” juga diakui praktisi bisnis farmasi di Jakarta Kendrariadi Suhanda. Namun, menurut Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) ini, umumnya mereka menyembunyikan masalah ini, karena berisiko jika ketahuan.



Untuk mencegah terjadinya praktik “perselingkuhan” ini, menurut Kendrariadi, dibutuhkan komitmen dari semua pihak baik dari para dokter maupun perusahaan farmasi. Jika praktik kotor ini dibiarkan, maka yang jadi korban adalah konsumen dalam hal ini masyarakat.“Obat jadi mahal, karena biaya “promosi” tadi itu kan cukup mahal, yang akhirnya perusahaan akan membebankan pada konsumen,” ujarnya.
“Perselingkuhan” antara dokter dan produsen obat-obatan memang bak buahsimalakama. Di tingkat perusahaan, manajemen mencoba untuk mencegah tidakterjadinya praktik melanggar etik itu, namun di level bawah (medrep) kadangberjuang untuk mendapatkan sale. “Itulah fakta yang terjadi selamaini,” tambahnya.Ketua Majelis Kode Etik Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) M. SyamsulArifin menyebutnya ini bukan fenomena baru, tetapi sudah lama terjadi. Namun iamengatakan, data pelanggaran etik perusahaan farmasi anggota GPFI, dari 200perusahaan farmasi tidak sampai 5% yang melakukan pelanggaran ini danditangkap. “Tapi, kami tidak bisa langsung memberi sanksi, karena yang kitatangkap itu, kebetulan istilahnya maling-maling kecil. Paling kita kasihperingatan atau pembinaan. Tapi kalau kasusnya besar, maka harus diproses. Itukesepakatan GP Farmasi dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia),” ujarnyakepada eksekutif.     Kebutuhan perusahaan farmasi terhadap medrep cukup besar. Menurut Kendrariadi,keberadaan medrep merupakan ujung tombak untuk mengenalkan produk farmasi baikkepada dokter maupun apotek. Untuk menjadi seorang medrep, disukai berlatarbelakang pendidikan farmasi atau apoteker. Pasalnya, seorang medrep dituntutmenguasai bidang farmasi, khususnya jika untuk berhadapan dengan para dokterdan mengenalkan obat-obatan produk baru. “Kalau dulu, perusahaan farmasi biasanya menggunakan obat sample. Tapisekarang tidak boleh, karena banyak disalahgunakan. Sample yang mestinyadiberikan gratis itu dikumpulkan lalu dijual oleh oknum medrep ke pasar-pasarobat,” ujarnya.Maraknya praktik persekongkolan antara dokter dan perusahaan farmasi melaluimedrep, akhirnya membuat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan GP Farmasi Indonesia merasa perlu untuk membuat kesepakatan bersama pada tahun 2007 lalu, diKementerian Kesehatan.Ada tujuh poin yangdisepakati yang ditandatangani kedua organisasi ini. Di antaranya: dokterdilarang menjuruskan pasien membeli obat tertentu, karena dokter telah menerimakomisi dari perusahaan farmasi; dukungan perusahaan farmasi pada pertemuanilmiah dokter tidak boleh dikaitkan dengan kewajiban mempromosikan ataumeresepkan suatu produk; perusahaan farmasi dilarang memberikan honorariumkepada dokter untuk menghadiri pendidikan kedokteran (kecuali jika menjadimoderator); donasi pada profesi kedokteran tidak boleh dikaitkan denganpenulisan resep atau penggunaan produk perusahaan tertentu; dan beberapa poinkesepakatan lainnya.Permasalahannya, dengan adanya kesepakatan ini, apakah akan meredupkanpraktik-praktik culas para perusahaan farmasi dalam mempromosikan produknya?Tidak ada  jaminan, memang. Semua dikembalikan pada kejujuran dan perilakupara dokter sebagai tempat mengeluhnya para pasien dan para produsen obatsebagai pemasok kebutuhan produk kesehatan.
Read more...
separador

music online

Follow me


music online