Like facebook


music online

TOP ARTIKEL

About Me

Tampilkan postingan dengan label BUGIS MAKASSAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUGIS MAKASSAR. Tampilkan semua postingan

DOWNLOAD EBOOK & MP3 BUGIS MAKASSAR

Read more...
separador

MAKASSAR DI TANAH AFRIKA



Makassar tumpah darahnya, berilmu di tanah Makkah dan Madinah, Banten ladang jihadnya, terasing di Srilangka, terbuang hingga Afrika


Adalah Syekh Yusuf, putera asli Makassar, lahir di Kerajaan Gowa pada tahun 1626 M. Dari asal usulnya, beliau merupakan keturunan bangsawan di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa dan Bone.
Dari segi ketokohannya, ia bukan hanya ulama syariat, tapi juga sufi, pemimpin tarikat, pengarang, pejuang, dan musuh besar kompeni Belanda. Oleh pemerintah kompeni di Hindia Timur (Indonesia), Syekh Yusuf dianggap duri dalam daging, hingga ia diasingkan ke Ceylon (Srilangka), kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan dan wafat di pengasingannya, Cape Town, pada tahun 1699 M.
Pada zamannya (abad ke 17), Syekh Yusuf dikenal hingga empat negeri, yakni: Makkah, Banten, Sulawesi Selatan, Ceylon dan Afrika Selatan. Beliaulah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Afrika Selatan dan Ceylon bahkan dianggap bapak bangsa rakyat Afrika Selatan, karena perjuangannya mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan warna kulit.
Bayangkan, sejak usia 18 tahun (abad ke 17) Syekh Yusuf telah mengembara selama 20 tahun untuk mencari ilmu dari Makassar ke Banten, Aceh, Yaman, Makkah, Madinah dan Damaskus, mendalami tasawuf dan mengajar di Masjidil Haram pada usia 38 tahun. Begitu besar motivasi belajar anak muda ini.
Selama pengembaraannya mencari ilmu, Syekh Yusuf mengantongi ijazah dari beberapa tarekat, seperti tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Ba’alawiyah, dan Qadariyah. Namun dalam pengajarannya, beliau tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri pada abad itu.
Menurut peneliti asal Belanda, B.F Matthes, Islam sudah hadir sebelum Syekh Yusuf terlahir. Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dibawa oleh Datok ri Bandang (juga disebut Katte toenggalak), yang berasal dari kota tengah Minangkabau. Tidak lama sesudah Islam diterima di Sulawesi Selatan, lahirlah seorang bernama Sehe Yusoepoe atau Sjaich Josef Toeang Salama. Beliau dikenal sebagai wali dibawah pemerintahan Raja Gowa ke-19, Abdul Djalil Tuemenanga  ri Lakiung.
Matthes mengungkapkan, selama Yusoepoe berdiam di Bantam (Jawa) sesudah kembali dari Makkah, ia mendapat kunjungan seorang wali dari Gowa bernama Toeang Rappang atau Abdoel Bashir Sehetta I Wodi. Toeang Rappang pernah bersama-sama dengan Yusoepoe di Makkah. Ia adalah seorang buta dan luas pengetahuannya, yang mendapat tugas oleh gurunya agar kembali ke Gowa untuk menyebarkan agama Islam. Tahun 1644, Syekh Yusuf pun meninggalkan tanah airnya dan bermaksud berziarah ke Makkah melalui Banten.
Pengembara Ilmu Sejati
Berdasarkan sumber buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Abu Hamid (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin) berjudul:“Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang”, Syekh Yusuf meninggalkan negerinya Gowa menuju pusat Islam di Makkah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Dengan menumpang kapal melayu dari pelabuhan Somba Opu, ia berangkat untuk tujuan pertama, yakni ke Banten, sebagaimana jalur niaga pada masa itu di Laut Jawa. Nama Banten rupanya sudah sering didengar oleh Syekh Yusuf dari pelaut-pelaut dan pedagang-pedagang Melayu
Kapal niaga Melayu berlabuh di beberapa daerah niaga sekitar Laut Jawa, sehingga perjalanan ke Banten ditempuh dalam waktu delapan hari. Di Banten, Syekh Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Bahkan Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal dengan Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa.
Merasa belum puas dengan pengajian-pengajian yang dipelajarinya di Banten, maka ia memutuskan untuk berangkat ke Aceh, tepatnya pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam dan menemui Syekh Nuruddin ar-Raniri.
Walaupun bukti-bukti dokumenter di Aceh atas kedatangan Syekh Nuruddin dalam periode ini tidak ada, namun dapat dilihat bahwa Syekh Yusuf pernah berguru pada Syekh Nuruddin dan menerima ijazah tarekat Qadariyah, seperti yang ditulis olehnya dalam risalah “Safinat an-Naja”
Setelah Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat Qadariyah dari Syekh Nuruddin, ia berusaha ke negara Timur Tengah untuk menambah ilmunya dan menunaikan ibadah haji sebagaimana tujuan semula. Keseluruhan waktu yang digunakan oleh Syekh Yusuf selama di Banten dan Aceh kurang lebih lima tahun, sehingga diduga ia berangkat ke Timur Tengah pada tahun 1649. Menurut Buya Hamka, keberangkatannya ini bertolak dari Aceh dan bukan dari Banten.
Versi lain mengatakan, Syekh Yusuf berangkat dari pelabuhan Banten. Mengingat Banten merupakan pusat penyalur barang dagangan ke Eropa dan negara-negara lain, menggantikan posisi Malaka sesudah diruntuhkan oleh Kompeni Belanda tahun 1641.
Sumber-sumber lontarak menyebutkan bahwa perjalanan Syekh Yusuf dari Banten ke Saudi Arabia melalui Ceylon (Srilangka), memakan waktu 56 hari. Di Arab Saudi, Syekh Yusuf mula-mula mengunjungi negeri Yaman dan berguru dengan Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugrahi ijasah tarekat Naqsabandi.
Masih di negeri Yaman, Syekh Yusuf berguru dengan Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini, Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat al-Baalawiyah. Setelah musim haji, ia ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah untut menuntut ilmu. Di Madinah, ia menjumpai Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani yang merupakan guru Syekh Abdurrauf Singkel. Dari syekh ini, ia diberi ijasah tarekat Syattariyah.
Belum puas juga dengan berbagai ijasah tarekat, Syekh Yusuf bertolak ke negeri Syam (Damaskus). Di Syam ia menemui Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi.  Sang guru memberi ijasah tarekat Khalwatiyah, dan mengukuhkannya dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah.
Dalam Risalah Syekh Yusuf Safinat an-Naja, selain lima tarekat tadi, ia juga mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syadziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah dan lain-lain.
Syekh Yusuf kemudian membuka pengajian dalam Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai Ulama Jawi dan beberapa jamaah haji dari Indonesia (Hindia Belanda) pernah berguru padanya. Melihat pelbagai  jenis aliran tarekat yang pernah dipelajarinya, bukti Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam. Betapa tidak, ia jelajahi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tasawuf, di Timur Tengah sekitar 15 tahun, berkenalan dengan berguru pada syekh termasyhur di zamannya.
Sekembalinya dari Makkah, Syekh Yusuf berdiam diri di Banten dan menikah dengan seorang bangsawan puteri Sultan Banten Tirtayasa. Selama berada di Banten sekitar 20 tahun, Syekh Yusuf diangkat sebagai mufti kerajaan, guru bagi Sultan dan keluarganya, serta syeikh tarikat bagi penduduk. Ia mengajar selama 18 tahun.
Perang Gerilya
Ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Banten dengan kompeni Belanda, Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam peperangan itu, kompeni dibantu oleh Sultan Haji. Saat Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda, Syekh Yusuf menggantikannya, ia memimpin pasukan dengan gagah berani, bergerilya melawan kompeni di hutan rimba Jawa Barat hampir dua tahun lamanya.
Perlawanan Syekh Yusuf bersama Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan kompeni, diuraikan F. de Haan dalam bukunya“Priangan Jilid III”, menceritakan tentang pengepungan dan pengejaran laskar-laskar Banten, termasuk Syekh Yusuf saat melakukan taktik perang gerilya. Disebutkan bahwa pada bulan Januari 1683, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Kidul mengadakan perang gerilya di daerah Tangerang. Dari Tangerang kemudian ke Cimuncang, lalu ke  Jasinga dan terus menyusuri Sungai Cidurian.
Kompeni memerintahkan Van Happel untuk mengejar gerilyawan itu. Dari daerah Jasinga, Syekh Yusuf menuju ke arah timur, tepatnya Jakarta Selatan untuk tujuan ke Cirebon. Pada tanggal 11 Februari 1683, Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukannya menuju Cikaniki, hingga tak terkejar oleh kompeni karena rintangan alam. Dari daerah Cikaniki, Syekh Yusuf menuju Cianten lewat Cisarua dengan membawa pasukan kurang lebih 5.000 orang, termasuk 1.000 orang Makassar, Bugis dan Melayu.
Pada tanggal 25 September 1683 di Padaherang, istri serta puteri Syekh Yusuf ditangkap kompeni, sedangkan Pangeran Kidul beserta pembesar Banten lainnya gugur di medan peperangan. Menyusul  putrinya yang bernama Asma ditangkap. Akhirnya pada tanggal 14 Desember, setelah Syekh Yusuf membuat pertahanan di daerah Mandala, Van Happel dengan berpakaian Islam menggunakan putri Syekh Yusuf yang dijadikan tawanan sebagai siasat.
Atas desakan Van Happel, putrinya diminta untuk membujuk  Syekh Yusuf agar keluar dari persembunyiannya. Alhasil, Syeikh Yusuf menebus putrinya dengan menunjukkan batang hidungnya. Saat itu pula Van Happel menangkap Syekh Yusuf untuk segera dibawa ke Cirebon, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Betawi (Jakarta). Sementara itu pasukannya yang terdiri dari orang-orang Makassar dan Bugis dikembalikan ke Sulawesi.
Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon. Selama pengasingannya di Ceylon, ia isi waktunya dengan menulis karangan-karangannya yang dikirim melalui jamaah haji ke Indonesia. Ia juga mengajar tarekat Khalwatiyah. Kini, murid-muridnya tersebar mulai dari Banten, Sulawesi Selatan, Caylon, hingga Cape Town. Tak banyak riwayat hidup Syekh Yusuf yang terungkap ketika berada di Ceylon.
Dari pembuangannya di Ceylon kemudian dipindahkan ke Cape Town pada 7 Juli 1694 bersama 49 orang pengikutnya. Di sana pula, Syekh Yusuf menghabiskan waktunya dengan menulis. Karangan-karangannya di Afrika Selatan sampai sekarang belum ditemukan.
Riwayat hidup Syekh Yusuf di Cape Town (Afrika Selatan) mulai diceritakan oleh I.D du Plessis dalam bukunya “Die Bydrae van die Kaapse Maleier tot die Afrikaanse Volkslied” tahun 1935. dikatakan bahwa Syekh Yusuf adalah peletak dasar dari keberadaan Islam di Afrika Selatan. Syekh Yusuf wafat tahun 1699, sedangkan pengikut-pengikutnya masih tetap tinggal di Cape sampai tahun 1704. Sesudah tahun ini, diaturlah pengiriman kembali keluarganya ke Makassar, kecuali seorang anggota yang sudah menikah diizinkan tetap tinggal.
Sejak pengasingannya dipindahkan dari Ceylon ke Afrika Selatan, ketika itu pula penguasa kompeni Belanda berusaha mengikis habis pengaruh Syekh Yusuf di Makassar dan Banten. Berbagai cara dilakukan untuk memalingkan perhatian rakyat, terutama bekas anak buahnya di Priangan dan yang dikembalikan ke Sulawesi setelah Syekh Yusuf ditangkap.
Ketika murid-murid tarekat Yusuf amat menghormati murabbi-nya itu, penguasa kompeni mulai melancarkan siasahnya dengan mengaburkan ide perjuangan Syekh Yusuf, bahkan namanya diedarkan di kalangan rakyat dengan segala macam cerita kegaiban, dibungkus dengan berbagai paham-paham mistis, seolah-olah kegigihan Syekh Yusuf melawan kompeni tak pernah ada. Belanda menggunakan taktik untuk menekan pergolakan dan permusuhan terhadap kompeni atas pengaruh sebuah nama.
Usaha ini untuk beberapa waktu memang berhasil, dengan terciptanya hegemoni di darat dan lautan. Namun, kemasyhuran seorang Syekh Yusuf telah melampai batas benua. Sehingga kebesaran Syekh Yusuf, tak lagi menjadi milik bangsa Indonesia, atau sekadar pahlawan nasional, tapi sudah mendunia. Sampai-sampai makamnya berada di dua tempat, yakni di Afrika Selatan dan di Lakiung (Gowa), selalu ramai diziarahi. Syekh Yusuf yang masyhur sampai ke empat negeri, membuat ia dikenal oleh para peneliti dengan nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Maqassariy al-Bantaniy.
Berkembang Mitos
Syekh Yusuf wafat 23 Mei 1699 wafat didesa Maccasar, 40 km dari Cape Town dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan dibukit desa yang terletak di Teluk False. Karena desakan keluarga, maka 6 tahun kemudian VOC membawa keranda beliau menyeberangi samudera lalu dimakamkan di kampung halamannya di Lakiung. Ketika itu keranda Syekh Yusuf dibawa bersama oleh keluarganya dengan kapal de Spiegel yang berlayar langsung dari Kaap (Cape) ke Makassar.
Setelah disemayamkan di Istana Raja Gowa selama sehari semalam untuk memberi kesempatan kepada sanak keluarganya mengucapkan doa perpisahan terakhir, keesokan harinya, Syekh Yusuf dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa, 6 April 1705 dengan upacara kebesaran  kaum bangsawan.
Sayang, Syekh Yusuf yang dikenal sebagai ilmuwan, pengarang dan pahlawan pertempuran melawan kolonialisme pada abad ke-17 ini, kuburannya jadi tempat bernazar serta berdoa memohon murah rezeki, enteng jodoh, pangkat, kesehatan, dan panjang umur. Masyarakat setempat menyebutnya makam Tuanta Salamuka. Ada pula yang menyebutnya Tuan Karamat. Setelah dibangun kubah, masyarakat menyebutnya Kobangga.
Kisah-kisah yang beredar di daerah asal mengenai pejuang besar ini, banyak diwarnai aroma mitos, mistis, legenda dan a-historis. Bahkan di Cape Town sendiri, bermacam-macam dongeng bisa didengar seputar hal-hal yang tidak rasional. Oleh pembawa kisah, Syekh Yusuf digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesaktian mampu terbang melayang dan berjalan di atas lautan.
Pemerintah kolonial sepertinya sengaja membesar-besarkan berbagai dongeng tanpa dasar tarikh. Syekh Yusuf diredusir kebesaran pribadinya yang sejati, kedalaman ilmunya sebagai ulama dan kepemimpinan anti-kolonialnya yang gagah berani, diperkecil sehingga cukuplah semata-mata menjadi tokoh keramat yang kabur sosok teladannya. Padahal seorang Nelson Mandela pernah menyebut tokoh besar ini sebagai putera Afrika, pejuang teladan.
Selama di Banten dan pembuangan di Ceylon (1684-1693), Syekh Yusuf telah mewarisi risalah sebanyak 29 judul. Kebanyakan karya yang ditulisnya adalah ilmu tasawuf dan tarekat. Namun, sayang, tidak banyak orang yang membacanya. Bahkan ironinya, naskah-naskah itu terlantar 300 tahun lamanya, bisa dikatakan belum diterjemahkan dan belum dibaca oleh bangsanya sendiri.
Read more...
separador

BUGIS/BAJO TULANG PUNGGUNG ANGKATAN LAUT KERAJAAN SRIWIJAYA



Sejak Kan-to-li runtuh pada 563 M, ada jarak delapan puluh tahun sebelum Kerajaan Melayu di Sumatra bagian timur me­ngirimkan sebuah misi ke Cina dan melakukan perdagangan. Kon­disi itu menunjukkan bahwa tanda-tanda kehidupan mulai muncul kembali. Saat itu, Kerajaan Funan benar-benar telah runtuh. Jalur darat menyeberangi Genting Tanah Kra tak digunakan lagi, dan pola perdagangan telah berganti ke jalur laut menuju Selat Malaka.

Ketika Kerajaan Ko-ying dan Kan-to-li mulai berdiri, kelang­sungan hidup kerajaan-kerajaan di Indonesia telah dan terus ber­gantung pada keseimbangan tiga jenis hubungan, yaitu:

  1. Penguasa, yang berkuasa di pelabuhan-pelabuhan yang ber­dekatan dengan sungai-sungai besar, yang dapat mengenda­likan pergerakan dari daerah pedalaman menuju wilayah pantai, dan sebaliknya:
  2. Produsen, dalam bidang kehutanan, pertanian, dan pertam­bangan di daerah pedalaman yang membawa kemakmuran bagi kerajaan;
  3. Pelaut kerajaan yang kadang-kadang independen, yang me­lindungi wilayah kerajaan dari para bajak laut yang jahat. Mengawaki kapal armada dagang, dan dalam kasus Sriwi­jaya, membentuk angkatan laut yang terorganisasi dengan baik.Hubungan ini—yang biasanya mclibatkan orang-orang berlain­an budaya, suku, dan loyalitas—disatukan tidak hanya dengan aliansi formal yang dibuat di bawah sumpah, tetapi juga dengan berbagi barang-barang rampasan dari perdagangan mancanega­ra yang saling menguntunakan. Sistem tersebut sangat rapuh ka­rena jika keseimbangan tersebut terganggu—jika perdagangan menurun dan keuntungan juga menurun—produsen akan mcna­han produknya, atau bahkan mencari pasar yang lain. Atau. seper­ti yang mungkin terjadi pada Kan-to-li, para pelaut kemungkinan telah mcngkhianati sumpah mereka dan pergi berlayar mencari peruntungan yang lebih baik, atau kembali ke kehidupan lama mereka sebagai bajak laut yang tak mengenal susah.
Penerus Kan-to-li di sebelah tenggara Sumatra, yaitu Sriwijaya, kemungkinan mengalami peningkatan kemakmuran seperti layak­nya daerah-daerah lain karena sistem persimpangan Sungai tradi­sional. Tetapi terdapat faktor penting yang membedakan Sriwijaya dengan daerah-daerah lainnya. Seraya membentuk aliansi yang kuat dengan kerajaan-kerajaan tetangga untuk melindungi wila­yah pertahanannya, Sriwijaya sendiri membangun angkatan pe­rang yang kuat yang terdiri dari prajurit untuk melakukan "pende­katan", dan bila perlu, memaksa penduduk pedalaman untuk meng­hormati kesepakatan mereka.

Pada saat yang sama, Kerajaan Sriwijaya, dari ibu kotanya Pa­lembang di tepi Sungai Musi, tampaknya telah membangun "Ang­katan Laut Kerajaan yang terdiri dari para pelaut Nomaden" yang lebih kuat daripada wilayah-wilayah tetangganya. Pada akhir abad ke-7, angkatan laut tersebut telah mendominasi jalur perniagaan laut melalui Asia Tenggara. Sebuah inskripsi yang ditemukan di dekat Palembang menunjukkan kekuatan yang dimilikinya. In­skripsi itu menjelaskan bagaimana Raja Sriwijaya pada 23 April 683 M berusaha mendapatkan siddhayatra—sebuah proses menuju "kekuatan supernatural"—dengan 20.000 prajurit yang mengelu­-elukannya, yang ditugaskan di atas kapal untuk menaklukkan musuh bebuyutannya, Kerajaan Melayu (sekarang Jambi), dan mengukuhkan kekuasaannya terhadap masyarakat di sepanjang Sungai Batanghari. Ekspansi yang didukung oleh kekuatan semacam itu tidak pernah terjadi sebelumnya dan Sriwijaya tidak berhenti hanya sampai di Jambi.

Meskipun ada dugaan bahwa angkatan laut Sriwijaya disusun dari golongan orang laut yang tinggal di pulau-pulau dekat pantai, bukan demikian yang sesungguhnya terjadi. Jika orang laut yang dimaksud di milenium pertama adalah orang-orang yang secara relatif masih primitif, individualistik, kelompok pelaut nomaden yang belakangan tinggal di sekitar Selat Malaka sampai Kepulauan Lingga, tidak mungkin mereka dapat mengerahkan kedisiplinan dan kekuatan untuk menciptakan angkatan laut yang terkoordi­nasi seperti yang dibutuhkan Sriwijaya.

Tetapi, jika angkatan laut tersebut tidak dibentuk dari para pe­laut lokal, lalu siapakah mereka sebenarnya?

Untuk bertahan hidup di wilayah kepulauan, sebagian besar orang Indonesia telah mengasah kemampuan mengarungi lautan sebagai dasar untuk bertahan hidup sejak zaman dulu. Seperti yang ditulis oleh O.W. Wolters: “Kehandalan bangsa Melayu seba­gai pelaut tidak hanya dikenal pada masa I Tsing, yang berlayar ke India dengan salah satu kapal mereka. Kepandaian mereka pada abad ke-7 itu diraih melalui petualangan gagah berani menembus samudra dalam waktu yang panjang." Catatan yang dibuat pada abad ke-3 menceritakan kapal-kapal yang berlayar dari Filipina menyeberangi lebih dari 800 mil lautan lepas mcnuju Funan; tiga ratus tahun kemudian. Utusan-utusan Cina berhasil mencapai Se­menanjung Malaya dengan menggunakan kapal "barbar". Di luar itu semua, kita telah mengetahui bahwa bangsa Indonesia telah berpengalaman dalam hal bahari selama ribuan tahun.

Lalu, siapa sebenarnya orang-orang yang mengawaki kapal-ka­pal kuno tersebut?

Mengejar hantu berusia dua ribu tahun terbukti hanya mem­buang-buang waktu percuma. Oleh karena itu, daripada mencoba menarik kesimpulan dari bukti arkeologi yang tidak memadai dan referensi Cina yang tak jelas, mungkin kita bisa mendapat lebih ba­nyak informasi tentang mereka dengan mempelajari cara berlayar sepanjang masa, dan mencoba memperkirakan apa yang terjadi pada masa lampau.

Ada beberapa kelompok pelaut nomaden yang bertahan di seluruh pelosok kepulauan yang mcrupakan keturunan pelaut-pe­laut masa lampau yang patut untuk digali keberadaannya. Salah satunya yang cukup dikenal dan tampak nyata adalah Mawken, yang berasal dari kelompok manusia-perahu, yang karena posisi mereka di sepanjang pantai Semenanjung Kra, kemungkinan memiliki pengaruh yang kuat di wilayah tersebut. Tetapi, meskipun Mawken digambarkan sebagai "pelaut yang paling handal di muka bumi", perahu-perahu mereka—yang dibuat dari batang pohon yang dilubangi—berukuran kecil, dan mereka menurut pengamat­an orang pada abad ke-18 merupakan penduduk asli yang pemalu dan langsung berpencar dan bersembunyi di hutan-hutan bakau jika melihat orang asing. Menurut salah satu cerita mengenai asal­-usul mereka, mereka tinggal di lahan yang ditumbuhi kelapa, pisang, nanas, sukun, dan lain-lain. Tetapi karena terus-menerus di­ganggu oleh para tuan tanah Birma dan Malaya, mereka akhirnya meninggalkan lahan mereka untuk tinggal secara permanen da­lam perahu-perahu kano yang menjelma menjadi rumah terapung yang mereka beri atap. Mereka tidak memiliki sejarah tentang pe­rahu-perahu besar yang mampu berlayar mengarungi samudra, sehingga dapat diabaikan.

Di perairan sekitar Kalimantan dan di selat antara Singapura dan Sumatra, terdapat sejumlah besar "Orang Laut" yang lain: Orang Tambus, Orang Mantang, Orang Barok, Orang Galang, Orang Sekanak, Orang Pasik, Orang Moro, Orang Sugi, dan lain-lain. Mereka yang terbagi-bagi dalam lusinan suku yang lebih kecil, tak diragu­kan lagi memiliki peran yang penting ... tetapi mereka kcmungkin­an hanya tcrdiri dari kumpulan-kumpulan kccil yang bersembunyi di hutan-hutan bakau dan muara-muara di pulau-pulau keeil yang tak terhitung banyaknya—yang merupakan ancaman bagi para pe­lintas yang kurang waspada dan lebih baik dihindari. Seperti hal­nya Mawken, menurut cerita-cerita yang santer tentang mereka, mereka tidak mungkin dikategorikan sebagai orang-orang yang mampu membangun kelompok penjelajah dan pedagang terorga­nisasi yang dapat mengarungi samudra menuju India dan Afrika. Mereka lebih mirip seperti kelompok yang bisa disebut orang laut, kelompok Ma-lo-nu dari Sarawak yang menurut riwayat Cina, para pemimpinnya melubangi gigi emasnya serta makan dan minum dari tengkorak manusia, dan "... merupakan kelompok orang-orang liar, yang menangkap kapal karam, memanggang awak kapal yang karam tersebut di atas api dengan menggunakan penjepit bambu yang besar dan memakan mereka".

Jauh di sebelah timur kepulauan, antara Sulawesi dan Minda­nao terdapat suku Samal yang gemar berperang yang memiliki pe­rahu besar sejenis kora-kora. Pada 1847, kapal uap Inggris Nemesis bertemu dengan armada yang terdiri dari 40 hingga 60 kapal pe­rompak berjenis tersebut. Kapal terbesar digambarkan memiliki panjang 80 kaki dengan awak berjumlah 80 orang, sedangkan yang lain memiliki panjang sekitar 70 kaki, lebar 12 kaki, dengan awak berjumlah 40 orang, dan membawa empat hingga enam sen­jata. David Sopher menulis dalam bukunya, "Perangkat kapal ba­jak laut milik orang-orang Illanun dan Samal adalah tepian panda yang digunakan untuk mendayung seperti bireme Mediterania pa­da zaman dulu, yang pada kapal bajak laut maupun kapal perang memiliki persyaratan kecepatan dan kapasitas yang lama untuk membawa pasukan perang dalam jumlah besar seperti kapal pe­rompak bangsa Moro."' Kapal sejenis kora-kora mampu mclaku­kan perjalanan di laut lepas, sesuai perkiraan kita tentang hubungan kapal semacam itu dengan sangara pada masa Pliny. Tetapi, kapa­sitas angkutnya lebih kecil, dan para pemiliknya kemungkinan lebih tertarik dengan profesi bajak laut warisan dari masa lalu da­ripada berkecimpung dalam pelayaran jarak jauh yang dibutuh­kan oleh Sriwijaya.

Kemudian, terdapat orang Bajau yang terkenal, yang merupa­kan bangsa pelaut nomaden yang telah tersebar di segala penjuru kepulauan.

Tampaknya sudah sejak lama bangsa Bajau atau Bajo menja­lani kehidupan sebagai salah satu pelaut handal yang keberadaan­nya tersebar di Kepulauan Indonesia. Oleh karena itu, bangsa Bajo memiliki potensi lebih baik untuk menjadi angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. Sejarah mereka masih samar-samar, tetapi dengan meli­hat dari jumlah tempat yang mengenal nama "Bajau", "Bajo", "Baja", "Waju", atau "Bajoo", mereka tampaknya tersebar di mana-mana. Toponim "Bajo" dapat ditemukan dari ujung ke ujung Kepulauan Indonesia: dari Kepulauan Mentawai di lepas pantai barat Pulau Sumatra hingga Papua di sebelah timur—sebuah wilayah yang sa­ngat luas yang berjarak 2.500 mil dari barat ke timur dan 1.000 mil dari utara ke selatan. "Eksistensi mereka ditandai dengan perjalanan mengarungi lautan. Berlayar di laut lepas mcrupakan hal biasa bagi mereka—mereka mengarungi laut seperti layaknya burung-­burung laut," kata seorang pelancong bernama Raymond Kenne­dy, bertahun-tahun yang lalu.

Yang terpenting, asal-usul orang Bajo yang misterius itu sangat erat kaitannya dengan bangsa pelaut lain, antara lain bangsa Bugis (terkadang ditulis Bugi atau Buki), orang Mandar, dan orang Ma­kassar. Jika keberanian mereka di masa sekarang mencerminkan keberanian di masa lalu, dapat dipastikan mereka memiliki prasya­rat untuk menjadi angkatan laut Kerajaan Sriwijaya ribuan tahun yang lalu.

Orang Bajo disebut-sebut berasal dari Sulawesi, yang merupa­kan wilayah yang sama dengan orang Bugis atau Tau-Wugi, dan memiliki jalinan kekerabatan yang dekat dengan "orang-orang Wugi" tersebut. Pada 1885, Bastian menulis tentang peran orang Bajo dalam pembentukan wilayah politik (kerajaan) pertama di Sulawesi: "Tradisi (mereka) mengacu pada masa-masa awal pseudo sejarah orang Bugis dan Makassar, pada periode dongeng ketika kelompok penguasa diturunkan dari surga, memerintah selama tujuh generasi, dan kemudian menghilang. Mungkin karena mereka telah memasuki periode penetrasi budaya Hindu-Jawa." Dari penjelasan tersebut, tampaknya mereka berasal dari garis ketu­runan yang amat kuno yang mapan pada zaman Sriwijaya.

Meskipun punya hubungan dekat dengan orang-orang Bugis dan Makassar, kebiasaan-kebiasaan orang Bajo cukup bervariasi di setiap tempat mereka tinggal. Sebagian besar dari mereka, mi­salnya orang Mawken, menganggap perahu kecil sebagai rumah mereka. Mereka dilahirkan, tumbuh, dan meninggal di atas pera­hu, mencari penghidupan di muara-muara berair dangkal di pulau­-pulau terpencil tempat tinggal kawanan buaya. Di sana, mereka menangkap ikan, kura-kura, dan burung merpati. Sebagian yang lain berkelana hingga ke pantai utara Australia untuk mencari teripang, yang dihargai tinggi di Cina bagian selatan karena kelezat­annya. Orang Bajo yang lebih kaya tinggal di kapal yang disebut vinta, kapal bercadik yang memiliki tiga atau empat penyangga. Seperti halnya stink-pot yang pada masa kini terdapat di marina-marina di seluruh dunia, vinta "ditujukan hanya sebagai tempat hunian"; sebuah tempat tinggal untuk keluarga yang tidak pernah meninggalkan sauhnya. "Tak ada angin, tak ada ombak," kata orang-orang Bajo sambil tersenyum, "kapal itu tetap bergoyang!"

Beberapa orang Bajo membentuk hubungan baik dengan orang-­orang dari kasta yang lebih tinggi di pulau-pulau besar yang lebih maju, dengan cara menyediakan ikan-ikan untuk mereka, meng­antarkan pesanan dari pulau ke pulau, dan bertindak sebagai kuli yang membawa barang dagangan. Orang-orang Bajo yang berada di daratan ini "berburu" di lahan seperti halnya mereka berburu ikan di laut; mereka menanam padi dan tanaman lainnya, juga menjaga kebun kelapa, pisang, dan buah-buahan lain. Beberapa dari mereka membangun rumah panjang untuk keluarga besar mereka, sedangkan para pelaut nomaden yang sesungguhnya­—jika mereka harus tinggal sementara di pantai—akan membangun pondok di pantai yang bentuknya lebih kasar, dan hanya untuk di­tempati oleh keluarga inti. Biasanya, perkampungan orang Bajo dapat ditemukan di pulau-pulau terpencil atau tanjung-tanjung yang berjarak satu atau dua hari dari pasar terdekat tempat mere­ka menjual ikan-ikan mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyukai kedamaian, sering berkelana tanpa membawa senjata, dan sering diganggu oleh para bajak laut. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membela diri secara terorganisasi, dan taktor itulah yang membuat mereka tersebar hingga ke wilayah yang luas. Beberapa peneliti melaporkan bahwa "Bangsa Bajo memiliki kecenderungan untuk tetap berkelompok, dan menyingkir menca­ri tempat tinggal lain jika diganggu."

Bahasa dan kebiasaan-kebiasaan orang Bajo, seperti halnya orang Bugis yang merupakan "sepupu" mereka, mengalami per­ubahan secara konstan sebagai akibat dari hubungan mereka de­ngan bangsa-bangsa lain. Kemauan mereka untuk mengambil dan menggunakan bahasa-bahasa dari penduduk yang mendiami pu­lau-pulau merupakan bagian penting yang harus dicatat. Hal ter­sebut bahkan berlaku hingga benda-benda yang penting bagi ke­hidupan mereka, seperti istilah-istilah yang berhubungan dengan kapal, yang dianggap sebagian orang tidak akan mengalami per­ubahan. Adrian Horridge, yang memahami permasalahan itu de­ngan baik pada 1970-an dan 1980-an, menulis: "sebagai pelaut yang sering berkelana ke sana-kemari, mereka sangat cepat mengadop­si bahasa lokal dan mulai menggunakan kata-kata dalam bahasa tersebut untuk menyebut perahu dan peralatan mereka, dan hal itu sungguh amat mencengangkan."

Sebaliknya, ada pula fakta bahwa orang-orang Bajo, Bugis, Ma­kassar, Mandar, dan kelompok-kelompok lain yang masih memi­liki kekerabatan yang mendominasi "dunia perahu", masing-ma­sing memiliki istilah yang sangat berbeda untuk bagian-bagian dari perahu. Perbendaharaan kata khusus itu terbentuk selama berta­hun-tahun; dengan demikian, beragamnya jenis kapal mcnunjuk­kan adanya pengembangan secara bertahap selama periode yang lama, dan pada saat yang sama menunjukkan beragam gaya hi­dup yang mengisyaratkan bahwa orang-orang Bajo dan Bugis telah berkelana sampai ke tcmpat yang jauh.

Jika orang-orang Bajo telah berlayar hingga ke tempat-tempat yang jauh dan merupakan nelayan dan pedagang yang terampil, orang Bugis memiliki kemampuan yang membuat mereka pantas menjadi pemimpin angkatan laut di wilayah tersebut. Seorang sosiolog pernah menggambarkan struktur sosial bangsa Bugis seba­gai bangsa yang "sentrifugal". Mereka "mengirim anggota-anggota mereka pergi keluar lembah dan pulau tempat mereka tinggal, se­cara temporer atau selamanya, ke dunia luar, dan mereka bekerja keras mencari kebijaksanaan dan kekayaan .... untuk bangsa Bugis, pergi merantau sama normalnya dengan menikah." Sentrifugalis­me ini sangat kontras dengan masyarakat "sentripetal", seperti orang-orang Bali atau Toraja, yang anggota masyarakatnya "dita­rik ke dalam dan terjerat dalam jaring kewajiban-kewajiban yang ada dalam masyarakat, kekerabatan, dan ritual". Hal itu merupa­kan latar belakang sosial yang sempurna bagi para perantau dan penjelajah."

Selain keahlian bahari mereka, bangsa Bugis mempunyai repu­tasi sebagai pedagang dan juga prajurit yang setia sekaligus kejam. Selama berabad-abad mereka merupakan pemain utama dalam pengangkutan rempah-rempah, kayu cendana, mutiara, amber­gris, damar, sarang burung walet yang dapat dimakan, sagu, dan sirip ikan hiu yang dikeringkan, untuk diperdagangkan di Cina ba­gian selatan. Ketika Portugis datang pada awal 1500-an, bangsa Bugis juga telah dikenal sebagai bajak laut yang menjual hasil rampasan mereka hingga ke Malaka. Bahkan pada 1970-an, sekitar dua ratus kapal yang dikenal sebagai kapal Pinisi milik bangsa Bugis yang beratnya antara 120-200 ton, masih bisa ditemukan meme­nuhi pelabuhan Sunda Kelapa di dekat Jakarta, dan lebih banyak lagi di Surabaya atau Ujung Pandang. Dan pada 1980-an, armada yang terdiri dari 800 Pinisi masih membawa kayu dalam rute re­guler dari Kalimantan ke Jawa.

Bangsa Bugis juga merupakan koloni bahari yang sukses, yang berhasil mendirikan pos-pos perdagangan hampir di setiap pela­buhan di Indonesia. Pada abad ke-17, mereka bahkan mengambil alih kerajaan Johor, dan dalam kurun waktu 1820-1830, pada masa‑masa pembentukan Singapura, bangsa Bugis sudah memiliki tempat tinggal di sana. Pada 1792, seorang pelancong menyatakan bahwa "Masyarakat Bugis yang datang tiap tahun untuk berda­gang di Sumatra dianggap para penduduk setempat sebagai tela­dan dalam cara bersikap, bangsa Melayu meniru gaya berpakaian mereka, serta membuat pantun-pantun yang memuji pencapaian mereka. Reputasi mereka tentang keberanian, yang melebihi semua pelaut di perairan bagian timur, mendapat sanjungan khusus. Mereka juga memperoleh rasa hormat dari barang-barang mahal yang mereka datangkan, serta semangat yang mereka tunjukkan ketika membelanjakannya."

Empat puluh lima tahun kemudian, seorang penulis bercerita tentang bangsa Bugis yang membentuk koloni di India: "... dalam hal kejujuran, kepribadian, dan perilaku, mereka jauh lebih unggul daripada bangsa Melayu. ...” Orang asing menganggap bangsa Bu­gis sebagai bangsa perompak. Seorang Cina berkata bahwa orang­-orang Bugis 'suka berpikir dan bertindak menuruti kemauan sen­diri, dan mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar'. Tanpa bermaksud untuk menentang pendapat itu, selama saya berkunjung ke India, saya tidak pernah satu kali pun mendengar adanya pemba­jakan yang dilakukan oleh pedagang Bugis. Bahkan, sepanjang pengetahuan saya, ada beberapa peristiwa yang justru membuk­tikan bahwa mereka cenderung bersikap sebaliknya."

Peta asal Belanda yang dibuat pada abad kc-18 dan digambar kembali o1eh navigator Bugis, menunjukkan bahwa pelaut-pelaut gagah berani itu telah berhasil mencapai Kepulauan Maladewa yang bentuknya menggantung dari India seperti pukat/jaring yang dapat menangkap semua pergerakan yang tcrjadi antara Asia Ti­mur dan Afrika. Tak ada yang tahu, sudah berapa lama mereka berada di Maladewa. Tetapi, dengan melihat bentuk kapal mereka yang lebih mirip dengan kapal Indonesia dibandingkan dengan kapal India atau Arab, diperkirakan hubungan itu sudah berlang­sung sejak jaman dulu."

Dari semua penjelasan di atas, terlihat bahwa bangsa Bugis, sam­pai dengan saat ini, adalah bangsa pelaut yang luar biasa. Pemim­pin yang baik, pelaut ulung, pedagang yang jujur, senang berpe­tualang, dan prajurit perang yang baik. Pada masa lampau, mungkin mereka adalah bajak laut yang kejam dan suka memenggal kepala lawannya. Tetapi jika sewaktu-waktu seorang penguasa kerajaan Indonesia membutuhkan sebuah armada yang dikelola pelaut pa­ling hebat yang pernah ada, tak ada yang melebihi kehebatan pe­laut Bajo atau Bugis, atau gabungan dari keduanya. Jika muncul kebutuhan semacarn itu, bangsa Bugis dan keturunan mereka akan terpilih menjadi orang-orang yang paling dipercaya. Kelom­pok inilah yang paling mampu melayani kerajaan-kerajaan tua di Indonesia dengan baik, khususnya Sriwijaya. Dan dalam kasus perjalanan ke Afrika, mereka (bangsa Bugis) adalah orang Indo­nesia yang paling mungkin terlibat.

Ada pendapat lain yang mendukung hipotesis ini. Sebuah in­skripsi tua Melayu yang berasal dari Palembang dan Pulau Bang­ka menceritakan siddhayatra yang agung, ketika Raja Sriwijaya melakukan pencarian "kekuatan supernatural". Isinya tidak dapat secara langsung kita pahami, tetapi bahasa yang digunakan da­lam inskripsi itu sangat penting. Fakta ini ditemukan olch Alexan­der Adelaar ketika sedang mempelajari asal-usul bahasa Madagas­kar. Dengan memerhatikan kemiripan antara bahasa Malagasi clan Melayu, ia membandingkan istilah-istilah dalam bahasa Melayu yang sama dengan bahasa Malagasi, lalu menarik kesimpulan: "Isti­lah-istilah dalam inskripsi tersebut menunjukkan bahwa migran Malagasi pada masa lampau melakukan hubungan dengan Su­matra Selatan ...... Lebih jauh lagi, lanjutnya, "Bukti-bukti tersebut memperkuat hipotesis yang telah disebutkan di atas bahwa bebe­rapa kalimat dalam bahasa yang tak dikenal (yang menunjukkan kemiripan dengan bahasa-bahasa Barito) yang tertera pada in­skripsi bangsa Melayu di Sumatra Selatan pada abad ke-7 M ada­lah sejenis bahasa pra-Malagasi."

Pentingnya bukti-bukti itu akan terkuak jika kita mulai melihat hubungan antara Madagaskar dan Afrika. Tetapi, selain memper­kuat dugaan kaitan antara Sriwijaya dan Madagaskar, bukti-bukti itu juga memperlihatkan adanya hubungan antara Sriwijaya dan Sulawesi/Kalimantan. Bahasa-bahasa Barito yang disebut olch Adelaar (diambil dari nama sungai di Kalimantan Selatan) yang memiliki kesamaan, tidak saja dengan bahasa Malagasi modern, tetapi juga dengan bahasa-bahasa yang ada di Sulawesi Barat Da­ya, yang merupakan kampung halaman bangsa Bugis, Bajo, dan Makassar.

Meskipun belum sepenuhnya jelas, semua bukti menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Bugis dan Bajo merupakan tulang punggung angkatan laut Kerajaan Sriwijaya, demikian juga keter­kaitan bahasa Bugis/Bajo dengan Madagaskar dan—lebih luas la­gi—dengan Pantai Timur Afrika.

Sumber : Buku Penjelajah Bahari, oleh Roberth Dick-Read
Read more...
separador

Mengenal Watak Bugis dan Makassar



Suku Bugis Makassar dikenal Pemarah, suka mengamuk, membunuh dan mau mati untuk sesuatu perkara, meski hanya masalah sepele saja. Apa sebab sehingga demikian?
Ada apa dengan jiwa karakter suku bangsa ini?

Tidak diketahui apa sebab orang Bugis Makassar terpaksa membunuh atau melakukan pertumpahan darah,
biarpun hanya perkara kecil. Jika ditanyakan kepada mereka apa sebabnya terjadi hal demikian, jarang bahkan tak satupun yang dapat menjawab dengan pasti –sehingga dapat dimengerti dengan jelas- apa penyebab ia menumpahkan darah orang lain atau ia mau mati untuk seseorang.

Ahli sejarah dan budaya menyarankan untuk mengenal jiwa kedua suku bangsa ini lebih dekat lagi
dengan cara mempelajari dalil-dalil, pepatah-pepatah, sejarah, adat istiadat dan kesimpulan-kesimpulan kata mereka yang dilukiskan dengan indah dalam syair-syair atau pantun-pantunnya.

Laksana garis cahaya di gelap malam, apabila kita selidiki lebih mendalam, tampaklah bahwa kebanyakan terjadinya pembunuhan itu ialah lantaran soal malu dan dipermalukan. Soal malu dan dipermalukan banyak diwarnai oleh kejadian-kejadian yang dilatari adat yang sangat kuat. Sebut saja satu, silariang (kawin lari) misalnya, atau dalam bahasa Belanda : Schaking.

Apabila seorang pemuda ditolak pinangannya, maka ia merasa malu. Lalu ia berdaya upaya agar sang gadis pujaan hati Erangkale (si gadis datang membawa dirinya kepada pemuda), atau si pemuda itu berusaha agar gadis yang dipinangnya dapat dilarikannya (silariang). Apabila hal ini terjadi, maka dengan sendirinya pihak orang tua (keluarga) gadis itu juga merasa mendapat "Malu Besar" (Mate Siri’). Mengetahui anak gadisnya silariang, segera digencarkan
pencarian untuk satu tujuan:
membunuh pemuda dan gadis itu! Cara ini sama sekali tidak dianggap
sebagai tindakan yang kejam,
bahkan sebaliknya, ini tindakan terhormat atas perbuatan mereka yang
memalukan. Oleh orang Bugis
Makassar menganggap telah menunaikan dan menyempurnakan salah satu
tuntutan tata hidup dari
masyarakatnya yang disebut adat.

Selain itu, kedua suku Bugis Makassar tersohor sebagai kaum pelaut yang
berani sejak dahulukala
hingga sekarang. Sebagai pelaut yang kerap ‘bergaul’ dan akrab dengan
angin dan gelombang lautan,
maka sifat-sifat dinamis dari gelombang yang selalu bergerak tidak mau
tenang itu, mempengaruhi
jiwa dan karakter orang Bugis Makassar. Ini lalu tercermin dalam
pepatah, syair atau pantun yang
berhubungan dengan keadaan laut, yang kemudian memantulkan bayangan
betapa watak atau sifat kedua
suku bangsa itu. Contoh salah satu pantun:

Takunjunga’ bangung turu’
Nakugunciri’ gulingku
Kualleangna talaanga natolia
Artinya: "saya tidak begitu saja mengikuti arah angin, dan tidak begitu
saja memutar kemudi saya.
Saya lebih suka tenggelam dari pada kembali." Maksudnya, kalau langkah
sudah terayun, berpantang
surut –lebih suka tenggelam- daripada kembali dengan tangan hampa.

Jadi kedua suku bangsa ini memiliki hati yang begitu keras. Tapi,
benarkah begitu? Justru
sebaliknya, orang Bugis Makassar memiliki hati yang halus dan lembut.
Dari penjelasan di atas
nampaklah bahwa kedua suku bangsa ini lebih banyak mempergunakan
perasaannya daripada pikirannya.
Ia lebih cepat merasa. Begitu halus perasaannya sampai-sampai hanya
persoalan kecil saja dalam
cara mengeluarkan kata-kata di saat bercakap-cakap, bisa menyebabkan
kesan yang lain pada
perasaannya, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman.

Tapi, kalau kita telah mengenal jiwa dan wataknya atau adat
istiadatnya, maka kita tengah
berhadapan dengan suku bangsa yang peramah, sopan santun, bahkan kalau
perlu ia rela mengeluarkan
segala isi hatinya –bahkan jiwanya sekalipun- kepada kita.

Jika ada orang Makassar telah mengucapkan perkataan "Baji’na tau" atau
"Baji’tojengi tau I Baso"
(maksudnya: Alangkah baiknya orang itu atau alangkah baik hati si
Baso), maka itu cukup menjadi
suatu tanda, bahwa apabila ada kesukaran yang akan menimpa si Baso,
maka ia rela turut
merasakannya. Ia rela berkorban untuk kepentingan si Baso.

Apabila ada seseorang yang hendak mencelakai atau menghadang si Baso di
tengah jalan, jika
didengarnya kabar itu, maka ia rela maju lebih awal menghadapi lawan
itu, meski tidak dimintai
bantuannya. Ia mau mati untuk seseorang, dikarenakan orang itu telah
dipandangnya sebagai orang
baik. Olehnya, orang Bugis Makassar dikenal sebagai orang yang setia,
solider dan kuat pendirian.
Meski tak jarang yang memplesetkan kata Makassar sebagai "Manusia
Kasar".


Selain itu, kita juga bisa ketahui sifat Adat dari sebuah suku dengan melihat pepatah lama dari tanah bugis makassar.

Le'ba kusoronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang (Makassar)
Bila perahu telah kudorong,layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju.
Taro ada taro gau (Bugis)
Arti bahasa: Simpan kata simpan perbuatan.
Makna: Konsistensi perbuatan dengan apa yang telah dikatakan.

Ku alleangi tallanga na toalia (Makassar)
Arti bahasa: Lebih baik tenggelam dari pada kembali (latar belakang kata tersebut dari seorang pelaut yang telah berangkat melaut)
Makna: Ketetapan hati kepada sebuah tujuan yang mulia dengan taruhan nyawa.
Eja pi nikana doang (Makassar)
Seseorang baru dapat dikenali atas karya dan perbuatannya
Teai mangkasara' punna bokona loko' (Makassar)
Bukanlah orang Makassar kalau yang luka di belakang. Adalah simbol keberanian agar tidak lari dari masalah apapun yang dihadapi.(inilah yang sering orang lain liat pada suku bugis makassar)

Aja mumae’lo nabe’tta taue’ makkalla ‘ ricappa’na lete’ngnge. (Bugis)
Arti bahasa: Janganlah engkau mahu didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian
Makna:Janganlah engkau mahu didahului orang lain untuk mengambil rezeki .
Silahkan Tinggalkan Pesan

Read more...
separador

KISAH PENGEMBARAAN DUA PANGERAN MAKASSAR DI PRANCIS


KISAH PENGEMBARAAN DUA PANGERAN MAKASSAR DI PRANCIS PADA MASA KEKUASAAN LOUIS XIV DAN LOUIS XV (1686-1736)
Bab ini merupakan ringkasan artikel Christian Pelras yang diterbitkan dalam majalah Archipel pada l997, dengan judul "La premiere description de Celebes-Sud en francais et la destinee remarquable de deux jeunes princes makassar dans la France de Louis XIV" (Pemerian pertama mengenai Sulawesi Selatan dalam bahasa Prancis dan nasib menakjubkan dua orang pangeran Makassar di Prancis pada masa Louis XIV).

Dalam abad ke-17, masih sedikit sekali orang Prancis mengunjungi Makassar; yang paling terkenal di antaranya adalah Pierre Berthelot, Alexandre de Rhodes, Joseph Tissanier, dan Daniel Tavernier, saudara laki-laki Jean-Baptiste Tavernier. Pierre Berthelot tiba di Makassar tahun 1622 sebagai kelasi kapal pengawas kecil Hermitage, salah satu kapal armada Beaulieu dan menetap di sana selama tiga tahun, bekerja untuk kantor dagang Portugis, lalu pergi ke Goa dan mati sebagai martir di Aceh tahun 1638. Sekembalinya dari Tiongkok scoring jesuit, Alexandre de Rhodes menetap selama delapan tahun di Makassar. Pastor Tissanier singgah di sana tahun 1661. Para pengikut Huguenot yang diasingkan di Prancis setelah pencabutan Edit de Nantes merupakan satu-satunya bangsa Prancis yang diizinkan Belanda untuk menjalani kegiatan di wilayah kekuasaan mereka karena semenjak kekalahan Makassar tahun 1666, baik Prancis, Inggris, Portugis, maupun Denmark tidak boleh membuka kantor dagang di Makassar.

Keluarga kerajaan memiliki tradisi mengirim para pangeran muda untuk melengkapi pendidikan mereka di dalam kerajaan atau keluarga bangsawan asing, selaku pemuda ningrat yang dilatih dalam pengetalman militer pada usia lima atau enam tahun hingga masa remaja. Dua dari anak pemuda ningrat itu adalah putra Daen Ma-Alee (Daeng Mangalle), pangeran dari Makassar yang hidup dalam pengasingan di kerajaan Siam. Tapi sebagai penganut muslim, Daeng Mangalle dituduh bersekongkol melawan Raja Siam dan tewas saat pertempuran sengit yang telah dikisahkan pada bab sebelumnva, September 1686. Di antara mereka yang hidup, terdapat dua orang pangeran. Daeng Ruru yang berusia 15 tahun dan Daeng Tulolo, 16 tahun. Kepala kantor dagang Prancis di kerajaan Siam memutuskan untuk mengirim keduanya ke Prancis. Mereka naik kapal Coche pada akhir November 1686, tiba di Brest 15 Agustus 1687, dan baru berlabuh di Paris pada 10 September. Louis XIV tidak hanya merasa wajib memenuhi kebutuhan hidup mereka tapi juga mengurus pendidikan mereka dengan alasan kelas sosial kedua pangeran tersebut.

Kedua pemuda muslim itu terlebih dahulu dibaptis dalam agama Kristen dan diberi nama kehormatan Louis seperti Raja Prancis. Mereka didaftarkan ke kolese jesuit di Louis le-Grand untuk mempelajari bahasa Prancis sebelurn diterima di sekolah tinggi Clermont yang terkenal. Setelah itu mereka diterima di salah satu institusi Prancis paling bergengsi, sekolah perwira angkatan laut Brest yang pada 1682 menjadi cikal-bakal sekolah angkatan laut, sekolah marinir tertinggi di Prancis. sekolah itu dibagi ke dalam tiga kompi, masing-masing berisi 300-350 taruna. Tahun 1690, hanya 206 calon taruna yang diterima karena penerimaannya benar-benar selektif. Untuk dapat diterima, para calon taruna harus berusia kurang daripada 18 tahun dan berasal dari kalangan elit aristokrat di negaranya. Sekolah itu merupakan pencetak perwira yang dipilih secara teliti dan memiliki pendidikan kelautan dan militer terbaik. Fakta bahwa Daeng Ruru dapat diterima dalam institusi itu membuktikan perhatian yang diberikan Raja Prancis pada kedua pangeran asing tersebut. Kedua taruna ini tidak hanya menjadi amat sulit diatur tapi juga merasa lebih tinggi daripada yang lain vang tentunya sesuai dengan seorang Makassar yang berdarah biru. Mereka memandang perwira lain sama terhormat dan sama pintar dengan mereka tetapi berasal dari kelas yang rendah.

Orang terkejut dengan cepatnya promosi Daeng Ruru muda yang lulus sebagai perwira angkatan laut hanya selang dua tahun ia bersekolah. Ia berusia 19 tahun saat menyandang pangkat letnan muda yang setara dengan letnan di angkatan darat; dan berusia 20 tahun saat menjadi letnan angkatan laut. yang setara dengan kapten angkatan darat. Untuk maju dalam karir itu, ia harus benar-benar cerdas juga berharta. Makanya tunjangan keuangan dari kerajaan kepada Daeng Ruru benar-benar diperlukan. Kendati kemajuannya yang cepat, pada 1706 Louis Pierre Makassar mengajukan keluhan dalam suatu surat yang ditujukan kepada de Pontchartrain, menteri kelautan kerajaan Louis XIV, karena tidak di ikutsertakan dalam pelavaran operasi angkatan laut yang akan dilaksanakan.

Akhirnya, 3 Januari 1707, pangeran dari Makassar itu dapat berlayar dan bertugas di kapal Jason, sebuah kapal bersenjatakan 54 meriam dengan tugas memburu kapal penyerang Belanda Vlisingen yang menyerang kawasan laut Belle-ile dan ile de Croix. Kapal itu milik armada laut Laksamana Duquesne. Tak lama setelah itu, Daeng Ruru ditunjuk untuk bertugas di kapal Grand yang akan ambil bagian dalam armada laut Laksamana Ducasse. Pada tanggal 19 Oktober1707,, armada laut itu tiba di Havana untuk membantu Spanyol bertempur melawan Inggris. Pada 19 Mei 1708, Daeng Ruru tewas: entah karena masalah kehormatan atau perkara utang judi. Sehubungan dengan adik bungsunya, Daeng Tulolo, alias Louis Dauphin Makassar. Kamus Moreri mengungkapkan kisah yang aneh, "Salah satu dari kedua bersaudara itu tewas ketika mengabdi kepada raja. Dia yang bertahan hidup, setelah mengetahui kematian sepupunya, pulang dari Prancis untuk mengambilalih takhta moyangnya dan raja mengizinkannya naik kapalnya. la terlihat amat tekun menjalankan agama Katolik, dan bahkan sebelum meninggalkan Paris ia membuat suatu gambar yang sepertinya dipersembahkan untuk Perawan Suci, dan mendirikan ordo yang disebut "bintang", di mana para satrianya harus mengenakan pita putih yang ia tempatkan di bawah perlindungan Bunda Maria. Gambar itu diletakkan dalam gereja Notre-Dame tapi beberapa tahun kemudian, gambar itu diturunkan setelah orang tahu bahwa pangeran itu telah memeluk agama moyangnya dengan alasan poligami". Kendati begitu, kenaikan pangkat Daeng Tulolo lebih lambat daripada abangnya. Ia lulus dari sekolah angkatan laut pada 18 Mei 1699 tetapi menunggu 13 tahun sebelum diangkat menjadi letnan muda pada usia 38 tahun, pangkat yang disandangnya seumur hidup. Ia bertugas di kapal India. Ketika ia meninggal di Brest 30 November 1736 pada usia 62 tahun, “Ia dibawa ke gereja Carmes di kota itu untuk disemayamkan dengan dihadiri beberapa perwira angkatan laut". Ia dikubur dalam gereja Louis de Brest. Jenazahnya hancur ketika terjadi pemboman saat Perang Dunia II.

(Sumber : Buku Orang Indonesia & Orang Prancis, dari abad XVI sampai dengan abad XX, oleh Bernard Dorleans – 2006, halaman 123-125)
Read more...
separador

music online

Follow me


music online